Rabu, 10 April 2013

Panduan KKL Penelitian Geografi Fisik dan Lingkungan (25-28 April 2013)




PENELITIAN
TINGKAT BAHAYA BANJIR  BANDANG/ ALIRAN/SEBARAN/GALODO
METODE PAIMIN et al, 2009 Dimodifikasi)
(25-28 April 2013)



NAMA MATAKULIAH      : Kuliah Kerja Lapangan (KKL)
SKS / STATUS                      : 2 sks / wajib
PRODI                                   : Pendidikan Geografi FIS UNP
DOSEN                                  : Tim Geografi Fisik dan Lingkungan Prodi Pendidikan
                                                  Geografi
LOKASI KEGIATAN          : Muara Labuh, Solok Selatan
BENTUK KEGIATAN         : Ekskursi (identifikasi dan analisis tingkat bahaya banjir
                                                  bandang, diskusi, dan  penyusunan laporan)

A.  Kompetensi
o   Mahasiswa paham dan mampu untuk melakukan penelitian geografi fisik berbasis keruangan
o   Mahasiswa paham dan mampu untuk melakukan analisis hubungan antar komponen penentu banjir bandang
o   Mahasiswa paham dan mampu untuk melakukan analisis hubungan antara komponen penentu banjir bandang dengan komponen penentu banjir bandang bandang lainnya
o   Mahasiswa paham, mampu, dan mempunyai sikap bahwa dengan melakukan analisis berdasarkan pendekatan geografi yaitu keruangan, ekologis, dan kompleks wilayah dapat untuk meyelesaikan permasalahan banjir bandang di muka bumi

B. Selama di kampus mahasiswa diharuskan untuk :
1.    Mengikuti kuliah umum KKL bidang penelitian geografi fisik
2.    Setiap individu aktif mengumpulkan dan mempelajari lokasi KKL dari berbagai sumber pembelajaran
3.    Sebelum berangkat ke lapangan setiap kelompok menyiapkan bahan berupa citra dan peta tematik lokasi pengamatan yang dapat diperoleh dari berbagai sumber.
4.    Sebelum berangkat ke lapangan setiap kelompok menyiapkan peralatan yang diperlukan selama kegiatan KKL yang dikonsultasikan kepada dosen pembimbing.
5.    Sepulang dari lapangan harus membuat laporan akhir secara kelompok memuat fakta  di masing-masing lokasi pengamatan dan dikumpulkan
Catatan :
1.    Format laporan akhir disusun berdasarkan kegiatan lapangan harian. Laporan setiap lokasi pengamatan untuk masing-masing hari dari 4 hari kegiatan lapangan, harus ditulis nama mahasiswa yang membuat laporan tersebut. Masing-masing laporan dijilid menjadi 1 laporan kelompok.
2.    Laporan lapangan meliputi laporan harian individu, laporan persentasi kelompok (powerpoint), dan lembar isian deskripsi lapangan digunakan untuk bahan pembuatan laporan akhir.

C. Selama di lapangan mahasiswa diharuskan untuk :
1.    Mengikuti setiap kegiatan KKL secara tertib dan perhatian.
2.    Mengerjakan setiap tugas yang ada.
3.    Saling membantu, bekerjasama, dan menjaga kelancaran selama pelaksanaan kegiatan KKL.
4.    Setiap individu membawa peta kerja minimal ukuran A4 dan minimal 3 lembar isian deskripsi lapangan.
5.    Di setiap lokasi pengamatan harus melakukan pembacaan citra atau peta kerja, memperhatikan penjelasan pembimbing, mengidentifikasi lokasi pengamatan, bila memungkinkan termasuk pengukuran atau wawancara, mencatat penjelasan dan hasil pengamatan, serta mengisi lembar daftar isian deskripsi lapangan.
6.    Pembagian tugas individu sebagai anggota kelompok dalam identifikasi setiap lokasi pengamatan dikoordiner oleh ketua kelompok masing-masing.
7.    Mengikuti secara aktif diskusi harian antara pukul 19.30 – 22.00 setiap malamnya.
8.    Membuat laporan harian secara individu yang ditulis tangan sebanyak 1 muka folio, memuat garis besar analisis semua lokasi hasil kegiatan KKL pada hari tersebut dan dikumpulkan pada akhir acara diskusi harian.
9.    Membuat laporan persentasi secara kelompok dalam bentuk powerpoint lebih kurang 5 lembar, memuat garis besar analisis penelitian terhadap lokasi pengamatan sesuai tema masing-masing kelompok pada hari tersebut dan mengumpulkan lembar daftar isian deskripsi lapangan untuk setiap kelompok.
Catatan :
1.    Penentuan kelompok yang akan membahas tema diskusi pada hari tersebut diumumkan sore hari sesaat setelah sampai di penginapan, untuk kelompok yang persentasi diundi saat awal acara diskusi.
2.    Setiap mahasiswa atau kelompok berhak untuk mendapatkan bimbingan dan penjelasan dari dosen pembimbing baik di lapangan, untuk pengisian lembar daftar isian deskripsi lapangan, Saat diskusi, saat pembuatan laporan harian, maupun pembuatan laporan akhir.
3.    Penilaian peserta KKL berdasarkan pada keaktifan mahasiswa dalam setiap kegiatan, untuk penilaian laporan harian individu dan kelompok terletak pada hubungan fakta lapangan dengan pendekatan analisis geografi.

D.      Bentuklahan
Verstappen (1983) telah mengklasifikasikan bentuklahan berdasarkan genesisnya menjadi 10 (sepuluh) macam bentuklahan asal proses, yaitu:
1.    Bentuklahan asal proses volkanik (V), merupakan kelompok besar satuan bentuklahan yang terjadi akibat aktivitas gunung api. Contoh bentuklahan ini antara lain: kerucut gunungapi, madan lava, kawah, dan kaldera
2.    Bentuklahan asal proses struktural (P), merupakan kelompok besar satuan bentuklahan yang terjadi akibat pengaruh kuat struktur geologis. Pegunungan lipatan, pegunungan patahan, perbukitan, dan kubah, merupakan contoh-contoh untuk bentuklahan asal struktural
3.    Bentuklahan asal fluvial (F), merupakan kelompok besar satuan bentuklahan yang terjadi akibat aktivitas sungai. Dataran banjir bandang, rawa belakang, teras sungai, dan tanggul alam merupakan contoh-contoh satuan bentuklahan ini
4.    Bentuklahan asal proses solusional (S), merupakan kelompok besar satuan bentuklahan yang terjadi akibat proses pelarutan pada batuan yang mudah larut, seperti batu gamping dan dolomite, karst menara, karst kerucut, doline, uvala, polye, goa karst, dan logva, merupakan contoh-contoh bentuklahan ini
5.    Bentuklahan asal proses denudasional (D), merupakan kelompok besar satuan bentuklahan yang terjadi akibat proses degradasi seperti longsor dan erosi. Contoh satuan bentuklahan ini antara lain: bukit sisa, lembah sungai, peneplain, dan lahan rusak
6.    Bentuklahan asal proses eolin (E), merupakan kelompok besar satuan bentuklahan yang terjadi akibat proses angin. Contoh satuan bentuklahan ini antara lain: gumuk pasir barchan, parallel, parabolik, bintang, lidah, dan transversal
7.    Bentuklahan asal proses marine (M), merupakan kelompok besar satuan bentuklahan yang terjadi akibat proses laut oleh tenaga gelombang, arus, dan pasang-surut. Contoh satuan bentuklahan ini adalah: gisik pantai (beach), bura (spit), tombolo, laguna, dan beting gisik (beach ridge). Karena kebanyakan sungai dapat dikatakan bermuara ke laut, maka seringkali terjadi bentuklahan yang terjadi akibat kombinasi proses fluvial dan proses marine. Kombinasi ini disebut proses fluvio-marine. Contoh-contoh satuan bentuklahan yang terjadi akibat proses fluvio marine ini antara lain delta dan estuari
8.    Bentuklahan asal glasial (G), merupakan kelompok besar satuan bentuklahan yang terjadi akibat proses gerakan es (gletser). Contoh satuan bentuklahan ini antara lain lembah menggantung dan morine
9.    Bentuklahan asal organik (O), merupakan kelompok besar satuan bentuklahan yang terjadi akibat pengaruh kuat aktivitas organisme (flora dan fauna). Contoh satuan bentuklahan ini adalah mangrove dan terumbu karang
10.    Bentuklahan asal antropogenik (A), merupakan kelompok besar satuan bentuklahan yang terjadi akibat aktivitas manusia. Waduk, kota, dan pelabuhan, merupakan contoh-contoh satuan bentuklahan hasil proses antropogenik

E.       Pola Aliran Sungai
Kenampakan pola alirandapat menunjukkan suatu bentuk permukaan bumi, misalnya daerah gunung api atau muka bumi yang terbentuk akibat patahan. Suatu pola aliran sungai tidak selalu merupakan dalam satu DAS.
1) Pola aliran dendritik akan tebentuk jika pertemuan antara anak-anak sungai ada yang membentuk sudut lancip dan tumpul.
2) Pola aliran paralel atau sejajar dapat dijumpai pada daerah-daerah perbukitan yang memanjang dengan kemiringan lereng yang curam.
3) Pola aliran trellis dicirikan dengan percabangan anak-anak sungai pada sungai utama yang membentuk sudut siku-siku. Pola ini dapat dijumpai pada kompleks pegunungan patahan dan lipatan.
4) Pola aliran menyebar (radial) menunjukkan ciri aliran yang berbeda arah, ada yang ke utara, barat, timur dan selatan. Pola aliran ini biasanya terdapat pada daerah gunug yang berbentuk kerucut.
5) Pola aliran memusat (multi basinal) menunjukkan ciri aliran yang memusat pada lahan tertentu. Pola lairan ini biasanya terdapat pada daerah cekungan seperti dolina di daerah karst.
6) Pola aliran annular menunjukkan ciri aliran yang berpencar, tetapi sungai orde satu berpusat pada sungai orde dua yang melingkar. Pola aliran yang demikian menunjukkan daerah berbentuk kubah yang tererosi lanjut.
7) Aliran rectangular merupakan pola aliran dari pertemuan antara alirannya membentuk sudut siku-siku atau hampir siku-siku. Pola aliran ini berkembang pada daerah rekahan dan patahan.

F.        Bencana Alam Banjir Bandang (PVMBG, 2007; Hermon, 2012)
Kawasan rawan banjir bandang merupakan kawasan yang sering atau berpotensi tinggi mengalami bencana banjir bandang sesuai karakteristik penyebab banjir bandang, kawasan tersebut dapat dikategorikan menjadi empat tipologi (BNPB, 2008), yaitu:
a) Daerah pantai, merupakan daerah yang rawan banjir bandang karena daerah tersebut merupakan dataran rendah yang elevasi permukaan tanahnya lebih rendah atau sama dengan elevasi air laut pasang rata-rata (mean sea level) dan tempat bermuaranya sungai yang biasanya mempunyai permasalahan penyumbatan muara.
b) Daerah dataran banjir bandang (floodplain area), adalah daerah di kanan-kiri sungai yang muka tanahnya sangat landai dan relatif datar, sehingga aliran air menuju sungai sangat lambat yang mengakibatkan daerah tersebut rawan terhadap banjir bandang baik oleh luapan air sungai maupun karena hujan lokal. Kawasan ini umumnya terbentuk dari endapan lumpur yang sangat subur sehingga merupakan daerah pengembangan (pembudidayaan) seperti perkotaan, pertanian, permukiman dan pusat kegiatan perekonomian, perdagangan, industri, dan lain-lain. Dataran banjir bandang merupakan wilayah yang sangat berbahaya karena mempunyai potensi terkena bencana banjir bandang yang sangat besar. Dataran banjir bandang harus dihutankan atau ditanam dengan vegetasi yang mampu berfungsi sebagai kawasan penyangga dan tidak boleh digunakan untuk kegiatan pertanian dan permukiman. Dewasa ini di Indonesia, kawasan dataran banjir bandang umumnya banyak digunakan untuk permukiman dan lahan pertanian, sehingga berdampak terhadap intensifnya bencana banjir bandang pada saat musim hujan di bagian hilirnya.
c) Daerah sempadan sungai, daerah ini merupakan kawasan rawan banjir bandang, akan tetapi, di daerah perkotaan yang padat penduduk, daerah sempadan sungai sering dimanfaatkan oleh manusia sebagai tempat hunian dan kegiatan usaha sehingga apabila terjadi banjir bandang akan menimbulkan dampak bencana yang membahayakan jiwa dan harta benda.
d) Daerah cekungan, merupakan daerah yang relatif cukup luas baik di dataran rendah maupun di dataran tinggi. Apabila penatan kawasan tidak terkendali dan sistem drainase yang kurang memadai, dapat menjadi daerah rawan banjir bandang.
Kriteria Tingkat Bahaya Banjir  Bandang

Tipe-Tipe
Skor (%)
Indikator
Kriteria
Harkat
Bentuklahan
5
Volkanik (V)
Rendah
1
Struktural (P)
Agak Rendah
2
Solusional (S)
Sedang
3
Antropogenik (A)
Agak Tinggi
4
Fluvial (F), Denudasional (D), Marine (M)
Tinggi
5
Tanggul Alam/Pembendungan alami
25
Tanggul  kiri kanan sungai kemiringan > 25%
Rendah
1
Tanggul  kiri kanan sungai kemiringan 15-25%
Agak Rendah
2
Tanggul  kiri kanan sungai kemiringan  8- 15%
Sedang
3
Tanggul  kiri kanan sungai kemiringan  < 8%
Agak Tinggi
4
Tanggul  kiri kanan sungai kemiringan  < 8% dan ada pembendungan alami pada hulu sungai
 Tinggi
5
Pola Aliran Sungai
5
Rectanggular
Rendah
1
Radial, Paralel
Agak Rendah
2
Trellis
Sedang
3
Dendritik
Agak Tinggi
4
Annular, Multi basinal
Tinggi
5
Curah Hujan (mm/tahun)
30
<1000
Rendah
1
1000-1500
Agak Rendah
2
1500-2000
Sedang
3
2000-2500
Agak Tinggi
4
>2500
Tinggi
5
Lereng Lahan Kiri Kanan Sungai (%)
5
>8 (Sangat Lancar)
Rendah
1
6-8 (Lancar)
Agak Rendah
2
4-6 (Agak Lancar)
Sedang
3
2-4 (Agak Terhambat)
Agak Tinggi
4
<2 (Terhambat)
Tinggi
5
Pembendungan Oleh Percabangan Sungai dan Pasang
10
Tak Ada
Rendah
1
Anak Cabang Sungai Induk
Agak Rendah
2
Cabang Sungai Induk
Sedang
3
Sungai Induk
Agak Tinggi
4
Pasang Air Laut
Tinggi
5
Meandering Sinusitas
P = Pj. Sungai sesuai Belokan/Jarak Lurus
2
1,0-1,1
Rendah
1
1,2-1,4
Agak Rendah
2
1,5-1,6
Sedang
3
1,7-2,0
Agak Tinggi
4
>2,0
Tinggi
5
Lereng Rata-Rata DAS (%)
3
<8
Rendah
1
8-15
Agak Rendah
2
16-25
Sedang
3
26-45
Agak Tinggi
4
>45
Tinggi
5
Penggunaan Lahan
15
Hutan Lindung/Konservasi
Rendah
1
Hutan Produksi/Perkebunan
Agak Rendah
2
Pekarangan/Semak/Belukar
Sedang
3
Sawah/Tegal-Terasering
Agak Tinggi
4
Permukiman/Kota
Tinggi
5
Analisis model tingkat bahaya banjir bandang (Paimin et al., 2009, dimodifikasi) adalah sebagai berikut:
                      
TBB = BL(5%)+TA(25%)+P(5%)+CH (30%)+LK(5%)+PP(10%)+M(2%)+L(3%)+LU(15%)

TBB      : Tingkat Bahaya Banjir Bandang
BL         : Bentuklahan
TA         : Tanggul Alam/Pembendungan Alami
P            : Pola Aliran
CH        : Curah Hujan
LK         : Lereng Kiri Kanan Sungai
PP          : Pembendungan dan Pasang
M           : Meander
L            : Lereng rata-rata kawasan
LU         : Penggunaan Lahan

Analisis untuk menentukan zonasi tingkat bahaya banjir  bandang digunakan formula yang dikembangkan oleh Dibyosaputro (1999), yaitu:

 i = c-b/k



I  : besar jarak interval kelas
c  : jumlah skor tertinggi (30)
b  : jumlah skor terendah (6)
k  : jumlah kelas yang diinginkan (3)


Berdasarkan hasil perhitungan di atas, zonasi tingkat bahaya banjir bandang terdiri atas 3 zona:
1. Zona 1:  tingkat bahaya banjir bandang bandang rendah, tidak ada sama sekali bahaya bencana banjir bandang yang mengancam pemukiman masyarakat
2. Zona 2:   tingkat bahaya banjir bandang bandang sedang, peluang terjadinya bencana banjir bandang 1 kali dalam 5 tahun yang menimpa permukiman masyarakat
3. Zona 3:  tingkat bahaya banjir bandang bandang tinggi, peluang terjadinya bencana banjir bandang 1 kali dalam 1 tahun yang menimpa permukiman masyarakat


ANGKET PENELITIAN KKL

Tipe-Tipe
Skor
 (%)
Indikator
Kriteria
Check list
Bentuklahan
5
Volkanik (V)
Rendah

Struktural (P)
Agak Rendah

Solusional (S)
Sedang

Antropogenik (A)
Agak Tinggi

Fluvial (F), Denudasional (D), Marine (M)
Tinggi


Tanggul Alam/Pembendungan alami

25

Tanggul  kiri kanan sungai kemiringan > 25%

Rendah

Tanggul  kiri kanan sungai kemiringan 15-25%
Agak Rendah

Tanggul  kiri kanan sungai kemiringan  8- 15%
Sedang

Tanggul  kiri kanan sungai kemiringan  < 8%
Agak Tinggi

Tanggul  kiri kanan sungai kemiringan  < 8% dan ada pembendungan alami pada hulu sungai
Tinggi


Pola Aliran Sungai

5

Rectanggular

Rendah

Radial, Paralel
Agak Rendah

Trellis
Sedang

Dendritik
Agak Tinggi

Annular, Multi Basinal
Tinggi

Curah Hujan (mm/tahun)
30
<1000
Rendah

1000-1500
Agak Rendah

1500-2000
Sedang

2000-2500
Agak Tinggi

>2500
Tinggi


Lereng Lahan Kiri Kanan Sungai (%)

5

>8 (Sangat Lancar)

Rendah

6-8 (Lancar)
Agak Rendah

4-6 (Agak Lancar)
Sedang

2-4 (Agak Terhambat)
Agak Tinggi

<2 (Terhambat)
Tinggi


Pembendungan Oleh Percabangan Sungai dan Pasang

10

Tak Ada

Rendah

Anak Cabang Sungai Induk
Agak Rendah

Cabang Sungai Induk
Sedang

Sungai Induk
Agak Tinggi

Pasang Air Laut
Tinggi


Meandering Sinusitas
P = Pj. Sungai sesuai Belokan/Jarak Lurus

2

1,0-1,1

Rendah

1,2-1,4
Agak Rendah

1,5-1,6
Sedang

1,7-2,0
Agak Tinggi

>2,0
Tinggi


Lereng Rata-Rata DAS (%)

3

<8

Rendah

8-15
Agak Rendah

16-25
Sedang

26-45
Agak Tinggi

>45
Tinggi


Penggunaan Lahan

15

Hutan Lindung/Konservasi

Rendah

Hutan Produksi/Perkebunan
Agak Rendah

Pekarangan/Semak/Belukar
Sedang

Sawah/Tegal-Terasering
Agak Tinggi

Permukiman/Kota
Tinggi



Selamat Bekerja

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar